Taruna STMKG Terlibat dalam Indonesia Prima 2018

0
113

Samudera Hindia memiliki peran penting bagi dunia, Namun, belum banyak eksplorasi yang dilakukan untuk menguak potensi yang terkandung di dalamnya. eksplorasi ini dapat berguna untuk mendapatkan data – data kelautan untuk kepentingan penelitian cuaca ekstrim.

Dilansir dari laman resmi WMO (public.wmo.int) Indonesia mengirimkan  delegasi dari berbagai instansi seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikan (BMKG), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (US-NOAA) untuk bersama  melakukan pelayaran mengarungi Samudera Hindia selama tiga minggu dalam program Indonesia Program Initiative on Maritime Observation and Analysis atau lebih dikenal dengan sebutan InaPRIMA. Program ini bertujuan untuk pengamatan cuaca kelautan di Samudera Hindia untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Pada tahun 2018 merupakan kali pertama taruna STMKG mengikuti kegiatan ini. Dengan diseleksi terlebih dahulu sebelum berangkat, para senior kita ini kak Ejha Larasati Siadari, Kak Khafid Rizki Pratama, Kak Muhammad Fuad Islami, dan dosen STMKG ibu Hasti Amrih Rejeki, M.Si dan Ibu Suharni, MT pergi bersama peneliti lainnya dari NOAA dan BMKG Pusat.

Mereka berlayar menggunakan Kapal Riset Geomarin III milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral produksi PT. PAL-Surabaya pada tahun 2008. Ekspredisi ini berjalan  selama 3 minggu hingga pertengahan Juni 2018 pada lima titik di Samudera Hindia yakni dari 0 khatulistiwa hingga 40,80,120,150 lintang utara.

Taruna dan Taruni serta dosen STMKG dalam penelitian InaPRIMA 2018Selama berlayar pengamatan hanya dilakukan di titik saja seperti transduser, CTD dan maintenance radiosonde. Sedangkan perjalanan dari titik satu ke titik yang lain tersebut dilakukan pengamatan observasi dan maritim saja.  Dilakukan secara bergantian per shift dua orang untuk pagi siang dan malam. Penelitian lainnya selama berlayar seperi CTD, pengamatan udara atas, pengamatan sinoptik, Konduktivitas, temperature, density , transduser, kedalaman kontur tiap lapisan hingga kedalaman 500 meter.

Berlayar selama 21 hari tersebut merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi senior  dan pembina kita ini. “Semoga bermanfaat untuk maritime, STMKG, buat Indonesia dan untuk bagian verifikasi dll semoga bisa bermanfaat jadi bisa tahu akurasinya seperti apa dan layak tidaknya seperti apa. Untuk STMKG sendiri semoga tahun depan masih ada kuotanya jadi dari dosen bisa ikut dan dari taruna juga masih bisa mengiktuinya terus kemudian mungkin dari tiap prodinya bisa mewakilkan satu orang supaya ada beberapa penelitian dari tiap jurusannya”, ujar Kak Khafid Rizki Pratama. — ZIS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 + 20 =